Selasa, 08 Maret 2011 - 14:44:07 WIB
Jangan Jadi Disainer
Diposting oleh : eric
Kategori: Disain Grafis - Dibaca: 4484 kali


Semoga Anda sependapat dengan saya bahwa disiplin desain sekarang telah menjadi salah satu elemen dasar aktifitas manusia modern,  inilah yang membuat saya tetap bertahan dalam garis nasib saya (lebay.com). Aktifitas kerja yang sangat akrab dengan situasi stres, gejala pertama adalah sulit tidur lalu serangan gangguan konsentrasi karena pikiran dan tubuh menjadi hiperaktif, diperburuk dengan munculnya jerawat (untunglah saya tidak :)) penghancur ketampanan disertai radang sariawan yang membuat makanan selezat apapun bagaikan mengunyah silet di dalam mulut.

Tapi saya heran, ternyata semakin hari semakin banyak saja orang yang bercita-cita dan berprofesi sebagai desainer. Bahkan lembaga pendidikan berbasis ilmu desain makin laris aja. Kalau boleh membandingkan bak menekuni ilmu agama yang wajib diamalkan, melebihi pelajaran moral. Disamping memberikan pemasukan materi yang cukup lumayan, menjadi desainer juga menyimpan penderitaan.

Semoga cukup saya saja yang mengalaminya!


APA ALASAN ANDA MENGGELUTI DUNIA SAYA?

Kalau saya berani bertahan disini, karena:

Kekuatan saya ada disini, dan saya mau mengembangkannya sebagai ujud syukur atas anugerahNya.

Dari kecil saya suka corat-coret dinding rumah yang kala itu masih kayu papan, dan sejak saat itulah saya yakin bahwa saya memiliki kemampuan lebih dalam hal visual, termasuk memvisualkan imajinasi. Ketika ditanya 'Kalo besar pengen jadi apa?'. Lantang saya menjawab, 'Pelukis!'.

Jawaban itu muncul dari ketidaktahuan terhadap seberapa besar dunia nyata di hadapan saya. Kata 'komputer', 'disainer', 'arsitek' atau profesi yang lain belum muncul dalam kamus kosakata mulut saya. Semakin besar, saya pun mengenal komputer, alat yang saya pahami bisa membantu saya mengantar ke dunia kerja. Sukses memang, alat itu telah membawa saya menjadi seorang staf Administrasi dan Keuangan di sebuah lembaga. Bahkan lebih dari itu, sebagai tehnisi, programmer dan tenaga pengajar komputer pun pernah saya lalui.

Dasar si tukang corat-coret, kemapanan kerja sebagai karyawan ternyata tidak membuat saya lantas tenang dan puas begitu saja. Ada sesuatu yang kurang, saya merasa energi saya lepas ke suatu hal yang tidak pada tempatnya. Bukan karena tidak mampu menjadi staf yang baik, tapi saya merasa ada tempat lain yang di tempat tersebut saya dapat melepaskan energi saya hingga klimaks.

Setelah lama saya berbincang-bincang dengan kekuatan sendiri, saya mengajak si komputer dan tangan usil saya yang suka corat-coret untuk berdamai. 'Tidak ada yang mustahil.... Jika kalian berdua berdamai, kalian akan menjadi team yang hebat di dunia disain', kataku membujuknya.

Saya memiliki kelemahan, dan saya tidak mau berkubang dalam lubang tersebut.

Saya meninggalkan dunia kerja yang menurut hemat pemikiran saya tidak bisa membawa saya ke titik puncak kesuksesan (ukuran sukses menurut pemahaman saya). Saya tidak bisa berhadapan dengan rutinitas yang tidak memiliki bumbu kreatif. Setiap pagi ngecek saldo awal dan menjelang pulang kerja memastikan saldo akhir-nya sesuai dengan kas nyatanya. Kelebihan uang kas dibandingkan dengan laporan keuangan seringkali membuat saya bingung, apalagi jika menemukan uang kas lebih sedikit daripada laporannya, hehe.. Setiap hari selalu berharap pekerjaan hari ini akan selesai, dan segera bisa melakukan pekerjaan lain yang lebih menantang. Namun sial, ternyata pekerjaan esok harinya masih juga bergulat dengan buku kumal laporan harian. Bahkan di bulan berikutnya buku kumal tersebut masih setia mendampingi saya. 'Saya bisa berhitung, tapi saya tidak bisa memegang hitungan itu terlalu lama, apalagi hitungan itu bukan milik saya...'

Kesempatan dan Tantangan selalu berdampingan, saya memiliki semangat untuk melewatinya.

Ngeri juga rasanya keluar dari sangkar emas menuju negeri antah berantah.
Itulah ketakutan awal yang pada kenyataanya sangat berdampak. Untunglah ada keyakinan bahwa masih ada 1001 jalan. Saya cuma butuh belajar, belajar, belajar dan belajar lagi. Saya yakin dengan semakin modernya sekitar maka kebutuhan disain semakin marak pula. Disainer dan pesain emang sangat membludak. Tapi saya yakin, dari tangan 1001 disainer, akan muncul kekhasan yang memiliki pasarnya masing-masing. Saya hanya butuh membuat standar karya saya supaya dapat menemukan pasarnya.


Ketika ditanya, 'Berapa besar kamu mau dibayar?'. Saya menjawab, 'SAYA INGIN DIBAYAR MAHAL'.

Honor, upah, bayaran atau apapun itu namanya selalu menjadi harapan utama dari timbal balik pekerjaan kita. Besarnya sebarapa tentunya menanggung konsekwensi juga seberapa besar karya kita bisa berimbas pada manfaat yang bisa diperoleh oleh klien. Imbas manfaat ini sebenarnya juga relatif, bisa jadi menfaat secara finansial karena mampu mendongkrak penjualan, atau mungkin manfaat kepuasan pribadi karena penikmat yang menyukai dan lain-lain.

Dalam hal ini, mari kita belajar bersama-sama..

SETELAH MEMBACA INI, SAYA HARAP ANDA TIDAK MAU MENJADI DISAINER:

Tidak enak menjadi seeorang disainer, itu jika anda memang tidak memiliki alasan yang dapat membuat anda nyaman. Menurut saya, sebaiknya anda menjadi seperti harapan Anda sendiri. Jika potensi Anda sebagai penulis ya menulislah, jika menyanyi ya menyanyilah, jika menganjar ya jadilah guru...

saya cuma berharap..., Anda tidak mau menjadi disainer seperti saya.




Baca juga artikel berikut:


 
  Facebook  
  77 Komentar  
  Google+