Minggu, 07 November 2010 - 19:31:14 WIB
Kisah Pilu Tragedi Merapi
Diposting oleh : Fransiska Xaveria Erica Putri
Kategori: Uncategori3 - Dibaca: 3383 kali

5 November 2010, Dini hari tersebut Merapi dengan letusan dahsatnya telah memaksa kita semua mengungsi keluar untuk berlindung ke radius aman, hingga radius 20km dari puncaknya. Mereka datang kepadaku dengan jas hujan yang penuh air dan abu (mungkin lebih tepatnya lumpur), kecemasan dan ketakutan pun tidak dapat mereka sembunyikan.

Setelah kejadian malam itu kupikir mereka baik-baik saja. Sebab setelah paginya pulang, beritanya tak kudengar lagi. Bahkan sebuah smsku, ''Dik Isna, malam ini masih mengungsi tidak?'', tidak pernah mendapatkan jawabannya.

Sontak aku kaget ketika melangkah menyusuri lorong-lorong GOR Slemania, ternyata kudapati kembali mereka di tempat itu, berjejal pada sebuah sudut yang agak gelap dalam lorong tersebut. Tidak cuma mereka, kutemukan juga mbokde yang usianya sudah renta, bahkan juga lebih banyak lagi kutemukan kerabat yang lain. Berdesakan dan berhimpitan bersama tiga puluh enam ribuan pengungsi lainnya. Mereka sempat menceritakan bagaimana mereka terceraiberai saat mengungsi.

''Aku sakbenere wegah ngungsi, Le. Tapi Pak Polisi mekso, aku digendong ngono wae, terus digowo nganggo mobil. Akhire yo aku mung manut wae. Tapi saiki yo manut karo petugas wae lah, Mbokde isih pengen slamet kok Le (Aku sebenarnya malas untuk mengungsi, Le. Tapi Pak Polisi memaksa, aku digendong paksa dan diangkut dengan mobil. Akhirnya ya aku menurut aja. Tapi sekarang patuh dengan petugas aja deh, mbokde masih ingin selamat kok Le)'', ucap mbokde dalam pertemuan tersebut.

Pada malam letusan terdahsyat tersebut sebenarnya mbokde tidak ikut mengungsi. Di radius yang dinyatakan tidak aman, kurang lebih 13 km, dia tetap bertahan menghadapi hujan kerikil, pasir dan abu di rumahnya. Sambil mendekap sebuah bungkusan berisi baju, dia mendekap cucu-cucunya menyudut pada ruangan yang temboknya dirasa paling kuat. Dia hanya bisa berharap ada sosok perkasa yang dapat mengungsikan tubuh rentanya. Syukurlah, hingga pagi menjelang, si wedus gembel yang paling ditakutinya tidak menghampiri perkampungannya.

''Si Wati (bukan nama sebenarnya) kulon omah kae, saiki ora iso mlaku (Si Wati sebelah barat rumah kita, sekarang tidak bisa jalan)'', mbokde mulai bercerita.

''Kok saged mbokde?(Kok bisa mbokde?)'', tanyaku heran.

''Wengi pas kedaden, dewe e iseh nginep nenggone anak e sing neng Mbronggang. Dewe e'ngungsi melu nunggang mobil, pas arep nyebrang kali Gendol,  lendut e' wes bludak tekan dalan-dalan. Mobile banjur mlebu ono lendut kui, terus bane bledos. Kabeh sing ono mobil banjur do panik, terus adikmu Wati mlumpat medun mlebu neng lendut sing jerune wes meh sedengkul. Adikmu Wati njerit-njerit, jebule lendut sing sak dengkul kui iseh panas banget. (Malam pada saat kejadian, dia sedang menginap di tempat anaknya di Dusun Bronggang. Dia mengungsi ikut bersama sebuah mobil, ketika mau menyeberang sungai Gendol, lumpurnya sudah meluap hingga ke jalan. Mobil pun terperosok ke dalam lumpur, kemudian ban mobil meledak. Semua yang ada di mobil jadi panik, kemudian adikmu Wati melompat turun ke dalam lumpur yang dalamnya sudah mendekati lutut. Adikmu menjerit, ternyata lumpur tersebut sangat panas / lahar panas)'', ngeri rasanya mendengar cerita mbokde.

Mbokde melanjutkan ceritanya, ''Untung ono Polisi sing cepet-cepet nulungi adikmu kui. Saiki dewe e dirumat neng Rumah Sakit. Tapi, sopir sak bojone sing ugo mlompat, mati keno panase lendut mau kui. (Untuk ada Polisi yang sengera menolongnya. Sekarang dia dirawat di Rumah Sakit. Tapi, sopir beserta istrinya yang juga melompat, mati tidak tertolong karena panasnya lahar tersebut.)''

Aku nggak bisa berkata apa-apa mendengar cerita mbokde. Aku paham betapa paniknya malam itu. Bunyi gemuruh Merapi yang tiada henti, terasa bagaikan halilintar di tengah hujan abu. Sebuah peristiwa yang masih menyisakan banyak duka dan kecemasan. Sebuah peristiwa yang masih mengundang pertanyaan, ''Kapan ini akan berhenti?''


(Diceritakan dan dibahasakan ulang dari cerita keluarga di pengunsian)





Baca juga artikel berikut:


 
  Facebook  
  77 Komentar  
  Google+