Minggu, 26 September 2010 - 23:13:41 WIB
Mengenal Affandi (Maestro Seni Lukis Indonesia)
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Seni & Hiburan - Dibaca: 8615 kali


Affandi (1907-1990)

 
Sebelum mulai melukis, Ia pernah bekerja sebagai
tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop
di salah satu gedung bioskop di Bandung.

Affandi adalah maestro seni lukis Indonesia. Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis, yang dipamerkan ke berbagai negara. Ia lebih sering melukis dengan menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya, kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya. Lukisannya sulit dimengerti oleh orang lain jika tanpa penjelasannya, namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.

Affandi dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907, putra dari R. Koesoema, seorang mantri ukur pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Pada umur 26 tahun, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor, dan dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis. Affandi memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi untuk ukuran orang segenerasinya. Ia memperoleh pendidikan HIS, MULO, dan selanjutnya tamat dari AMS. Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya.

Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis serta pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di kota Bandung. Ia juga sering berpindah kota, dengan kemiskinan yang menghimpitnya. Dari kemampuaanya membuat poster bioskop, sesungguhnya Affandi juga pandai melukis dengan gaya realis walaupun pada akhirnya ia memilih dan menemukan caranya tersendiri dalam melukis.

Karena bakat melukisnya yang luar biasa, suatu saat dia pernah mendapat beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, suatu akademi yang didirikan oleh Rabindranath Tagore. Namun ketika telah tiba di India, dia ditolak dengan alasan bahwa dia dipandang sudah tidak memerlukan pendidikan melukis lagi. Akhirnya biaya beasiswa yang telah diterimanya Ia gunakan untuk mengadakan pameran keliling negeri India.

Sepulang dari India dan Eropa, sekitar tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan dan terpilih untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante.  Dia masuk komisi Perikemanusiaan (sekarang semacam HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi. Menurut Basuki Resobowo yang juga teman melukisnya, Affandi suka diam dan kadang-kadang tertidur dalam sidang konstituante. Tapi ketika sidang komisi, Affandi selalu angkat bicara.

Ketika Republik ini diproklamasikan tahun 1945, Affandi pernah mendapat tugas membuat poster perjuangan. Poster ide Bung Karno tersebut menggambarkan orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Penyair Chairil Anwar melengkapi posternya dengan kata-kata "Bung, ayo Bung!''. Kemudian sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Ketika ditanya tentang dari manakah Chairil memungut kata-kata itu, ternyata Chairil Anwar memungut kata-kata yang biasa diucapkan pelacur-pelacur di Jakarta untuk menawarkan dagangannya pada zaman itu.

Meski sudah melanglangbuana ke berbagai negara, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah. Ia  tidak gemar berteori dan lebih suka bekerja secara nyata ini dibuktikan dengan kesungguhan dirinya menjalankan profesi sebagai pelukis yang tidak cuma musiman pameran.  Dia melukis seperti orang lapar, walaupun demikian dia hanya ingin menyebut dirinya sebagai ''tukang gambar''. Baginya melukis adalah bekerja, lebih jauh ia berdalih bahwa dirinya tidak cukup punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dan ia tidak meletakkan kesenian di atas kepentingan keluarga. ''Kalau anak saya sakit, saya pun akan berhenti melukis,'' mengutip ungkapannya.

Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan corak baru aliran ekspresionisme. Tapi ketika itu justru Affandi balik bertanya, ''Aliran apa itu?'',  Affandi membutakan diri dengan teori-teori.

Sampai ajal menjemputnya pada Mei 1990, ia tetap menggeluti profesi sebagai pelukis. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia dikuburkan tidak jauh dari Museum yang ia dirikan sendiri. Karena berbagai kelebihan dan keistimewaan karya-karyanya, para pengagumnya menganugerahi berbagai julukan membanggakan bahkan Maestro. Koran International Herald Tribune menjulukinya ''Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia''.

Sementara di Florence, Italia dia telah diberi gelar ''Grand Maestro''. Berbagai penghargaan juga membanjiri perjalanan, di antaranya pada tahun 1977 ia mendapat Hadiah Perdamaian dari International Dag Hammershjoeld. Bahkan Komite Pusat Diplomatic Academy of Peace PAX MUNDI di Castelo San Marzano, Florence, Italia pun mengangkatnya menjadi anggota Akademi Hak-Hak Azasi Manusia. Dari dalam negeri sendiri ada penghargaan ''Bintang Jasa Utama'' yang dianugrahkan Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1978.

Sumber:
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/affandi/index.shtml
Buku Wajah-Wajah Indonesia karya Solichin Salam dan berbagai sumber
http://id.wikipedia.org/wiki/Affandi
http://khanzaku.wordpress.com/2010/01/23/biografi-pelukis-affandi/





Baca juga artikel berikut:


 
  Facebook  
  185 Komentar  
  Google+