Selasa, 14 September 2010 - 21:00:28 WIB
Cinta Yang Terbungkam
Diposting oleh : eric
Kategori: Motivasi - Dibaca: 3234 kali

Persembahan untuk yang meragu dalam Cinta.

Namaku Cinta, sosok pribadi yang selalu mengutuk kata ''Cinta'' dalam arti sebenarnya. Itu mungkin lantaran seringkali aku tidak pernah mendapatkan sedikit pun perhatiannya. Hingga mencoba untuk beralih ke hati yang lain, namun selalu gagal menipu diri.

3 bulan lebih aku mengenalnya, aku hanya mengenalnya. Aku mulai lelah.. tidak mampu menemukan cara baru dalam menyalakan api cintanya. Aku menginginkannya untuk menemani hari-hari sepiku, tapi tidak pernah bisa sedikitpun mencuri perhatiannya.

Bundaku mengusulkan agar aku mengajaknya pergi makan malam. ''Dia akan mencintaimu.'' katanya.

''Apa-apaan sih, pasti dia akan menolak ajakanku, Bunda.'' protesku.

''Kamu belum pernah mencobanya, kan?'' jawab bunda

''Tapi aku cewek, Bunda... Seharusnya dia yang mengajakku''

''Tapi kamu mencintainya, kan? Dan dia tidak tahu hal itu. Apa salahnya, kamu hanya menawarkan kebaikan kecil, apakah itu merendahkan martabatmu sebagai wanita?'', jelas Bundaku.

Walaupun takut, kucoba juga nasehat Bunda. ''...Andre, aku pikir.. pasti akan menyenangkan kalau kita sesekali ke luar jalan-jalan makan malam berdua.'' Kataku dalam telpon kepada lelaki itu.

Sejenak sepi, tak ada suara dalam handponeku.

''... a a a aku tidak salah dengar Cinta?'', jawabnya gagap.''Aku senang sekali, pengen makan malam dimana?''

''Green Restoran'', jawabku masih ragu.

***

Saat itu pun tiba, betapa sungguh aku tidak menduga. Andre sudah menyiapkan tempat khusus yang istimewa. Tempat yang kupikir sangat mahal untuk seukuran kantong Andre, padahal juga.. bukankah aku yang mengajaknya?

Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari. Tidak ada topik yang istimewa tapi obrolan mengalir saja sampai-sampai kami terlambat untuk pulang. Ia mengantarku pulang hingga di muka pintu.

''Bagaimana kencanmu?'' tanya Bunda sesampainya aku di rumah.

''Sangat menyenangkan. Lebih dari yang Cinta duga. Tadinya tidak tahu mau ngomongin apa.''

Tetapi hari berikutnya aku kembali bersedih. Andre pergi begitu tiba-tiba menuju Surga. Kejadiannya begitu cepat, dan aku hanya bisa menangis di atas pusaranya.

Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari restoran tempat kami makan malam. Surat itu dilampiri kopi tanda lunas. Ada selembar kertas diselipkan di situ, bertuliskan:
'Maaf, selama ini aku kurang menyadari ada Cinta yang begitu mencintaiku. Aku selalu menganggap semuanya membenci lantaran kanker yang menyerangku. Seminggu ini aku hanya bisa tergolek lemas di Rumah Sakit, namun undanganmu menguatkan aku untuk menemuimu. Cinta, besar sekali arti undanganmu malam tersebut. Aku sudah bayar makan malam kita, karena rasanya tak mungkin kita makan bersama lagi. Walaupun begitu, Aku sudah bayarkan untuk dua orang, barangkali untuk Cinta dan Bunda.'

Pada detik itulah aku mengerti apa pentingnya arti bahwa kita harus mengungkapkan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Mengungkapkan pada orang yang kita sayangi bahwa kita sungguh mencintainya, selagi kita sempat.

Malam berikutnya, aku kembali ke Restoran itu untuk makan malam menanggapi undangan Andre yang sudah tiada. Dan di sampingku adalah Bunda, sebab dialah yang menyadarkan aku untuk bertahan mencintaimu Andre.

Aku juga sadar, selain bunda.. ternyata ada juga Andre yang telah menyadarkan aku untuk mencintai Bunda yang masih mendampingiku.





Baca juga artikel berikut:


 
  Facebook  
  99 Komentar  
  Google+